Episode 79: Dua Langkah Menuju Masa Depan

 



Kabar dari Bu Lina

Pagi itu, suasana di salon agak berbeda dari biasanya. Sebuah pesan dari Bu Lina masuk ke grup chat salon, membuat Nadia dan teman-temannya terdiam. Nadia membuka pesan tersebut dengan hati-hati.

"Nad, Maya, Tari, dan seluruh tim yang saya cintai, setelah pertimbangan panjang, saya memutuskan untuk menutup salon ini dan menjualnya. Kesehatan saya membutuhkan perhatian lebih, dan saya harus menjalani perawatan di luar negeri untuk waktu yang lama. Ini adalah keputusan yang tidak mudah, tetapi saya yakin kalian akan memahami. Terima kasih atas semua kerja keras dan cinta yang kalian berikan pada salon ini. Saya berharap suatu saat kita bisa bertemu lagi dengan kabar baik. Semangat terus untuk kalian semua."

Maya tampak terkejut dan sedikit bingung. "Aku nggak menyangka ini akan terjadi secepat ini," ujar Maya sambil menunduk. Tari yang biasanya ceria juga tampak sangat terdiam, berusaha menyembunyikan kekecewaannya.

Nadia merasa hati ini berat. "Ini keputusan besar dari Bu Lina. Aku tahu itu demi kesehatan beliau," kata Nadia dengan suara lembut, mencoba menenangkan teman-temannya.

Meskipun mereka tahu bahwa keputusan ini diambil demi kebaikan Bu Lina, perasaan kehilangan tetap saja menyelimuti. Salon yang sudah mereka anggap rumah kedua ini akan segera ditutup, dan segala kenangan bersama Bu Lina serta klien-klien setia akan berakhir.

Kegiatan di Salon: Menyambut Lebaran

Namun, meskipun kabar sedih itu datang, salon tetap beroperasi dengan semangat. Banyak klien yang masih datang dengan permintaan kuku palsu bertema Lebaran. Salah satu klien tetap, Ibu Dwi, meminta Nadia untuk membuatkan kuku palsu dengan desain ketupat yang lebih besar untuk perayaan Lebaran. Nadia, dengan sigap, mulai bekerja pada kuku-kuku tersebut.

Ia memilih kuku palsu berbentuk oval dan mulai melapisi permukaannya dengan cat gel hijau tua sebagai dasar. Setelah itu, ia menggambar garis-garis emas berbentuk anyaman ketupat, seperti desain yang sudah dibuat sebelumnya, tetapi kali ini dengan lebih banyak detail dan ukuran yang lebih besar. Setelah itu, Nadia menambahkan lapisan top coat mengkilap untuk memastikan desain bertahan lama. Klien-klien tetap terkesan dengan hasil karyanya, meskipun Nadia merasa ada perasaan campur aduk di dalam hati.

Raka dan Lamaran

Sore hari, setelah salon tutup, Nadia memeriksa pesan dari Raka. Ia mengundang Nadia untuk makan malam di restoran favorit mereka. Nadia merasa senang, meskipun dalam hati masih ada kesedihan tentang masa depan salon. Ketika Nadia tiba di restoran, Raka sudah menunggu dengan senyum yang penuh arti.

Mereka menikmati hidangan bersama, berbicara tentang banyak hal, dari rencana masa depan hingga kenangan indah mereka berdua. Raka, yang biasanya santai, tampak lebih serius malam itu. Setelah makan malam, ia menggenggam tangan Nadia, menatapnya dengan penuh ketulusan.

"Nad," katanya pelan, "Aku sudah memikirkan ini dengan sangat serius. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Aku ingin kita saling mendukung, apapun yang terjadi. Maukah kamu menjadi tunanganku?"

Raka mengeluarkan sebuah cincin berlian kecil yang cantik dan menyodorkannya kepada Nadia. Nadia terkejut, matanya mulai berkaca-kaca.

"Iya, Raka," jawab Nadia dengan suara bergetar. "Aku mau. Aku ingin menghabiskan hidupku bersamamu."

Mereka berdua tersenyum, dan Raka memakaikan cincin itu di jari manis Nadia. Momen itu terasa penuh kebahagiaan, namun di dalam hati Nadia, ada rasa kehilangan yang mengiringi kegembiraan itu. Meskipun dia bahagia menerima lamaran Raka, pikirannya tak bisa lepas dari kenyataan bahwa salon yang sudah menjadi tempatnya berkembang akan segera tutup.

Perasaan yang Campur Aduk

Malam itu, saat Nadia kembali ke apartemennya, ia duduk sejenak memandang cincin pertunangannya. Ada kebahagiaan dalam hatinya, tetapi juga perasaan yang begitu berat tentang salon dan Bu Lina. Ia tahu, meskipun dia akan melangkah ke masa depan yang lebih cerah bersama Raka, ada bagian dari dirinya yang merasa kehilangan.

"Aku akan menghadapi semuanya," gumam Nadia, memejamkan mata sejenak. "Aku harus kuat untuk Bu Lina, untuk salon ini, dan untuk masa depan kita."

Dengan tekad yang baru, Nadia menyadari bahwa meskipun ada perubahan besar yang datang, dia akan terus melangkah maju, mendukung orang yang ia cintai, dan menjaga kenangan indah di salon yang tak akan pernah terlupakan.


Komentar