Episode 77: Kilau Baru Menyambut Lebaran
Kegiatan di Salon
Pagi yang cerah menyelimuti salon, membawa semangat baru setelah semua ancaman mereda. Dengan ancaman dari Lila dan Karin yang kini telah ditangani polisi, Nadia, Maya, dan Tari bisa kembali fokus pada pekerjaan mereka.
Salon hari itu dipenuhi klien yang ingin memesan kuku palsu bertema Lebaran untuk digunakan pada hari raya yang akan datang seminggu lagi.
“Kuku ini praktis banget, Kak,” ujar Tari kepada Safira, seorang klien muda. “Motifnya cantik, dan kalau nanti nggak mau dipakai terus, bisa dilepas tanpa masalah.”
Safira memilih desain bernuansa hijau dan emas dengan pola ketupat modern, melambangkan kemeriahan Lebaran. Maya, yang terkenal dengan keahliannya, membantu seorang ibu bernama Bu Amira memilih desain bunga melati putih sebagai simbol kesucian di hari raya.
Sementara itu, Nadia melayani klien bernama Farhan, seorang pria muda yang ingin memesan kuku minimalis untuk dikenakan saat pertemuan keluarga di hari Lebaran. Pilihan Farhan jatuh pada kuku marmer putih dengan aksen emas.
“Kreatif sekali desain ini,” puji Farhan. “Pas banget untuk acara formal tapi tetap sederhana.”
Nadia tersenyum. “Desain minimalis memang selalu cocok untuk segala suasana. Dan perawatan kuku itu bukan hanya untuk perempuan, tapi untuk semua orang.”
Hari itu berlalu dengan obrolan hangat antara klien dan tim salon. Suasana penuh antusiasme menjelang Lebaran terasa di setiap sudut salon.
Malam yang Tenang
Sore hari setelah salon tutup, Nadia menerima pesan dari Raka:
“Siap-siap, aku jemput jam 7. Ada tempat spesial yang mau aku tunjukkan.”
Tepat pukul 7, Raka datang menjemput Nadia. Mereka pergi ke sebuah restoran kecil bernuansa tradisional dengan pemandangan taman yang dihiasi lampu-lampu temaram.
“Kenapa tiba-tiba makan malam di sini?” tanya Nadia penasaran.
“Karena kita harus merayakan,” jawab Raka sambil tersenyum. “Bukan hanya karena masalahmu sudah selesai, tapi juga karena kamu berhasil melewatinya dengan sangat kuat.”
Mereka menikmati makan malam sambil berbicara tentang rencana masa depan. Raka bercerita tentang proyek arsitektur barunya, sementara Nadia berbagi ide desain kuku bertema budaya Indonesia untuk Lebaran.
“Satu hal yang aku pelajari dari semua ini,” kata Nadia sambil menatap Raka, “adalah aku tidak pernah benar-benar sendirian. Aku punya tim hebat di salon, dan aku juga punya kamu.”
Raka menggenggam tangannya. “Dan kamu nggak akan pernah sendirian. Aku selalu ada buat kamu.”
Malam itu berakhir dengan rasa syukur dan kebahagiaan. Meski tantangan belum sepenuhnya usai, Nadia merasa lebih siap menghadapi apa pun di masa depan, dikelilingi oleh orang-orang yang mendukung dan mencintainya.

Komentar
Posting Komentar