Episode 75: Langkah Akhir


Pagi di Salon

Keesokan harinya, meski dihantui kecemasan, Nadia berusaha menjalani aktivitas di salon seperti biasa. Lina, Maya, dan Tari tetap memberikan dukungan penuh, memastikan Nadia merasa aman.

Namun, suasana hati Nadia sedikit berubah ketika seorang klien baru bernama Reno, seorang pengusaha muda, datang untuk perawatan kuku.

“Aku butuh sesuatu yang rapi dan profesional untuk meeting besar besok. Tapi jangan terlalu mencolok,” ujarnya ramah.

Nadia segera menyarankan manicure klasik dengan lapisan matte bening untuk tampilan bersih dan elegan. Saat bekerja, Reno berbagi kisahnya.

“Kadang, sebagai pria, aku merasa orang menilai perawatan seperti ini terlalu feminin. Padahal, tampil rapi itu penting,” katanya sambil tersenyum.

Nadia tersenyum, merasa terinspirasi. “Perawatan diri itu hak semua orang. Tidak ada gender yang membatasi siapa yang berhak merasa percaya diri.”

Obrolan mereka menyegarkan suasana di salon. Reno berjanji akan merekomendasikan tempat itu ke rekan-rekannya.

Petunjuk Baru dari Polisi

Siang harinya, Raka datang ke salon membawa berita dari polisi. "Ada perkembangan signifikan. Mereka melacak aktivitas seseorang yang diduga otak di balik ancaman ini," jelasnya.

"Siapa?" tanya Nadia dengan tegang.

"Seorang wanita bernama Karin. Dia pernah menjadi rekan kerja Lila di salah satu proyek besar dan punya motif balas dendam pada semua orang yang dekat dengan Melati dan kamu," ujar Raka.

Nadia terdiam sejenak, mencoba mengingat. “Karin? Aku tidak ingat pernah bertemu dengannya…”

Raka mengangguk. “Tapi dia jelas tahu tentangmu. Polisi menemukan email antara dia dan Haris, di mana dia memerintahkan ancaman langsung ke salonmu. Mereka yakin Karin berencana sesuatu yang besar.”

Ancaman di Malam Hari

Malam itu, setelah salon tutup, Nadia memutuskan tinggal lebih lama untuk menyelesaikan desain baru. Tari dan Maya sudah pulang, sementara Lina menunggu di ruang istirahat.

Saat Nadia tengah fokus bekerja, ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal:

“Lihatlah keluar. Aku sudah di sana.”

Jantung Nadia berdegup kencang. Ia menoleh ke arah jendela salon. Dalam cahaya lampu jalan, ia melihat sebuah mobil hitam terparkir di seberang jalan. Bayangan seseorang tampak di dalamnya, memandang langsung ke arah salon.

Nadia segera menghubungi Raka, yang langsung menginstruksikan untuk tetap berada di dalam. Tidak lama kemudian, polisi tiba di lokasi. Mobil hitam itu langsung melaju pergi sebelum mereka sempat mengejarnya.

Mencoba Bertahan

Setelah kejadian itu, Lina berbicara dengan Nadia. “Kita harus lebih berhati-hati. Jangan biarkan siapa pun membuatmu takut. Kamu tidak sendirian dalam menghadapi ini.”

Nadia merasa lega mendengar dukungan Lina. Meski ketakutan belum sepenuhnya hilang, Nadia sadar bahwa orang-orang di sekitarnya memberinya kekuatan untuk terus maju.

Konfrontasi Tak Terduga

Di tempat lain, Karin, wanita yang disebut Raka, kembali merencanakan langkah berikutnya. Ia bertemu dengan Lila di sebuah kafe terpencil.

“Kau pikir mereka akan bisa menghentikan kita?” tanya Karin dengan nada yakin.

Lila tersenyum tipis. “Kita sudah terlalu jauh untuk mundur. Tapi aku tidak mau ini berakhir dengan kegagalan.”

Karin mengangguk. “Tenang saja. Malam ini, kita akan membuat mereka mengerti siapa yang sebenarnya mengendalikan permainan ini.”

Cliffhanger

Di tengah malam, Nadia menerima telepon dari polisi. Mereka baru saja mendapatkan informasi bahwa sebuah pengiriman misterius menuju ke salon. Namun, pengirimnya tidak diketahui.

“Ini bisa jadi jebakan,” ujar Raka melalui telepon, mendesak Nadia untuk tidak pergi ke salon esok pagi tanpa pengawasan.

Sementara itu, Karin tampak tersenyum puas di depan layar komputernya. Ia mengetik perintah terakhir:

“Selamat pagi, Nadia. Nikmati hari terakhirmu.”


Komentar