Episode 73: Jebakan di Gudang Kosong
Daftar isi 61-80
https://kukuku-novelcinta.blogspot.com/2024/12/daftar-isi-61-80.html
Nadia dan Raka memandangi pesan tersebut dengan perasaan bercampur aduk. "Gudang kosong itu... bukankah polisi baru saja menyelidikinya?" tanya Nadia, suara gemetar.
Raka mengangguk. "Ini jelas jebakan. Mereka tahu kita semakin dekat dengan kebenaran, jadi mereka mencoba membuatmu terisolasi. Tapi kita tidak akan membiarkan mereka berhasil."
Maya, yang ikut mendengarkan, menyarankan, "Kita harus melibatkan polisi. Mereka punya rencana untuk menghadapi situasi seperti ini."
Namun, Nadia merasa tidak tenang. "Kalau aku tidak datang, mereka bisa saja melakukan sesuatu yang lebih berbahaya—bukan hanya untukku, tapi untuk semua orang di salon."
Persiapan yang Hati-hati
Raka menghubungi polisi dan memberi tahu mereka tentang pesan yang diterima Nadia. Polisi menyusun rencana untuk menangkap orang-orang yang terlibat tanpa membahayakan Nadia. Mereka meminta Nadia berpura-pura menerima ajakan itu, tetapi memastikan bahwa ia tidak pergi sendirian.
Sore itu, di salon, Nadia mencoba bersikap seperti biasa meskipun pikirannya terus dipenuhi oleh rencana malam itu. Seorang klien tetap bernama Dita datang untuk layanan spa manicure.
“Kelihatannya kamu sedang banyak pikiran, Nadia. Aku tahu tangan-tangan ini biasanya membawa keceriaan,” kata Dita sambil tersenyum, mencoba meringankan suasana.
Nadia tersenyum kecil dan mulai melayani Dita:
1. Perawatan Tangan: Dimulai dengan merendam tangan Dita dalam air hangat beraroma lavender untuk melembutkan kulit.
2. Scrub dan Massage: Menggunakan scrub lemon untuk mengangkat sel kulit mati, diikuti dengan pijatan lembut untuk relaksasi.
3. Perawatan Kuku: Membersihkan, membentuk, dan mengaplikasikan base coat untuk melindungi kuku.
4. Polish Warna Natural: Dita memilih warna soft pink untuk tampilan yang segar dan elegan.
5. Finishing: Top coat untuk kilau sempurna.
"Seperti biasa, kamu selalu membuatku merasa seperti ratu," kata Dita puas.
Perjalanan ke Gudang
Ketika malam tiba, Nadia bersiap untuk pergi. Polisi dan Raka mengatur agar mobil mereka mengikuti dari kejauhan. Maya dan Lina memeluk Nadia sebelum ia pergi, memberikan dukungan penuh.
Gudang kosong itu tampak menyeramkan, gelap, dan sunyi. Nadia melangkah masuk dengan hati-hati, berusaha menyembunyikan rasa takutnya.
Di dalam, hanya ada beberapa lampu gantung yang berkedip-kedip, menciptakan bayangan yang bergerak-gerak di dinding. Nadia memanggil, "Aku sudah di sini! Apa yang kalian inginkan dariku?"
Tiba-tiba, suara berat dari balik bayangan terdengar, "Kau berani sekali datang, Nadia."
Konfrontasi dengan Haris
Haris muncul dari kegelapan, ditemani oleh dua pria lain yang tampak seperti pengawalnya. "Kau membuat banyak masalah. Kalau saja kau diam, semuanya tidak akan serumit ini."
Nadia menatap Haris dengan tajam. "Kalianlah yang membuat masalah. Semua fitnah, ancaman, dan intimidasi ini hanya menunjukkan bahwa kalian takut aku tahu kebenaran."
Haris tersenyum miring. "Kebenaran? Kau tidak tahu apa-apa. Kau hanya seorang wanita kecil yang mencoba melawan sesuatu yang lebih besar darimu."
Namun, sebelum Haris bisa melanjutkan, suara langkah kaki terdengar di belakang Nadia. Polisi muncul dari berbagai sudut gudang, senjata teracung. "Tuan Haris, Anda ditangkap atas tuduhan pengancaman, penyebaran fitnah, dan tindakan kriminal lainnya," ujar salah satu petugas.
Haris terkejut, tetapi ia mencoba mempertahankan sikapnya. "Kalian pikir ini akan menghentikan kami? Nadia, kau belum menang. Kami hanya permulaan."
Setelah Penangkapan
Setelah Haris dan anak buahnya ditangkap, polisi menjelaskan kepada Nadia bahwa penangkapan ini adalah langkah besar untuk mengungkap jaringan yang lebih luas. Mereka juga meyakini bahwa Lila adalah otak utama di balik semua ini, tetapi masih dibutuhkan lebih banyak bukti untuk menjeratnya.
Raka memeluk Nadia erat saat mereka keluar dari gudang. "Kau sangat berani. Aku bangga padamu," bisiknya.
Namun, Nadia hanya bisa berpikir tentang kata-kata terakhir Haris. Apakah ini benar-benar berakhir? Ataukah ini hanyalah awal dari sesuatu yang lebih besar?
Cliffhanger:
Di dalam mobil polisi, Haris tampak tersenyum kecil. Dari ponselnya, sebuah pesan terakhir terkirim ke nomor yang tidak dikenal:
"Rencana B dimulai."
Komentar
Posting Komentar