Episode 70: Lingkaran yang Menyempit

Daftar isi 61-80

https://kukuku-novelcinta.blogspot.com/2024/12/daftar-isi-61-80.html

Malam itu, Nadia memutuskan untuk melaporkan ancaman terbaru di depan pintu apartemennya kepada polisi. Dengan bantuan Raka, ia memberikan laporan lengkap, termasuk kertas pesan yang ditinggalkan.

“Pesan ini semakin menunjukkan bahwa pelaku ingin menanamkan ketakutan, tapi itu juga membuat mereka lebih ceroboh,” kata petugas kepolisian yang menangani kasus ini.

Raka menggenggam tangan Nadia setelah mereka keluar dari kantor polisi. “Kita sudah di jalur yang benar. Haris dan Lila tidak bisa bersembunyi lama.”

Nadia mengangguk. “Aku hanya ingin ini segera selesai. Aku ingin hidup normal kembali, tanpa harus takut setiap saat.”

Suasana Tegang di Salon

Keesokan harinya, Nadia tiba di salon lebih awal. Tari dan Maya sudah menunggu, terlihat cemas setelah mendengar cerita tentang pesan di apartemen Nadia.

“Kamu yakin nggak apa-apa?” tanya Tari dengan nada penuh perhatian.

“Aku akan baik-baik saja. Kita tetap fokus pada pekerjaan, ya,” jawab Nadia sambil mencoba tersenyum.

Hari itu, salon menerima beberapa klien tetap yang sudah akrab dengan suasana di sana. Lina mengatur agar Tari menangani beberapa klien baru, sementara Maya membantu Nadia menyelesaikan desain nail art yang lebih rumit.

Salah satu klien yang datang adalah seorang pengacara bernama Ratih, yang memesan gel manicure dengan warna nude minimalis. Selama sesi, Ratih berbagi pengalamannya tentang menangani kasus serupa dengan ancaman yang diterima Nadia.

“Yang penting adalah membangun pola pikir bahwa kamu nggak sendirian. Ancaman semacam ini hanya bisa memengaruhi kita kalau kita membiarkan ketakutan mengambil alih,” ujar Ratih.

Nadia mendengarkan dengan penuh perhatian. “Terima kasih, Mbak Ratih. Kata-kata ini sangat berarti buat saya.”

Petunjuk Baru

Sore itu, Raka kembali dengan kabar penting. Polisi berhasil menemukan bahwa Haris sering mengunjungi sebuah gudang kosong di pinggiran kota, yang diduga digunakan sebagai tempat berkumpul oleh orang-orang yang bekerja di bawah Lila dan Andi Wijaya.

“Kita hampir sampai pada inti masalah ini,” kata Raka dengan nada optimis. “Tapi aku perlu kamu tetap waspada. Jangan pergi sendirian ke mana pun.”

Nadia setuju, meskipun perasaan waspada semakin membebaninya.

Pertemuan yang Tak Terduga

Saat salon mulai sepi menjelang malam, seorang pria yang tak dikenal masuk. Penampilannya rapi, tetapi ada sesuatu dalam sikapnya yang membuat Maya dan Lina merasa tidak nyaman.

“Saya ingin mencoba nail strengthening treatment,” ujarnya sambil memberikan senyum kecil.

Nadia mencoba menjaga sikap profesional, tetapi merasa ada sesuatu yang janggal. Saat proses berlangsung, pria itu mulai berbicara, tetapi nadanya terasa penuh sindiran.

“Salon ini cukup terkenal, ya. Tapi katanya akhir-akhir ini banyak gosip buruk?” tanyanya sambil menatap Nadia tajam.

Nadia mencoba tetap tenang. “Kami selalu fokus pada pelayanan terbaik untuk klien kami.”

Pria itu tertawa kecil. “Bagus. Tapi hati-hati, dunia bisnis bisa sangat kejam.”

Setelah selesai, pria itu meninggalkan salon tanpa banyak bicara lagi. Maya mendekati Nadia dengan wajah cemas. “Kamu kenal dia?”

Nadia menggeleng. “Tapi aku yakin dia ada hubungannya dengan ancaman ini.”

Malam yang Menegangkan

Malam itu, Nadia memutuskan untuk menginap di rumah Lina demi keamanan. Lina menyambutnya dengan hangat, memastikan bahwa Nadia merasa nyaman.

Saat Nadia mencoba beristirahat, ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal:

“Hati-hati dengan siapa kamu percaya. Lingkaranmu tidak seaman yang kamu pikirkan.”

Cliffhanger: Di luar rumah Lina, Haris terlihat berbicara melalui ponsel, dengan tatapan penuh intensitas mengarah ke rumah itu.


Komentar