Episode 64: Jerat yang Semakin Dekat
Daftar isi 61-80
https://kukuku-novelcinta.blogspot.com/2024/12/daftar-isi-61-80.html
Pagi itu, Nadia terbangun dengan perasaan waspada. Pesan ancaman dari nomor tak dikenal malam sebelumnya terus terngiang di benaknya. Sambil menatap jendela apartemennya yang diselimuti kabut pagi, ia mencoba menenangkan diri.
Setelah sarapan singkat, ia memutuskan untuk tetap melanjutkan rutinitas harian di salon. Lina sudah mengingatkan bahwa kondisi aman di salon akan selalu terjaga karena mereka saling menjaga satu sama lain.
Di Salon: Dukungan dan Kewaspadaan
Setibanya di salon, Maya dan Tari sudah bersiap. Lina menyambut Nadia dengan senyum menenangkan, meskipun jelas ia memahami ketegangan yang sedang dialami timnya.
“Semua akan baik-baik saja, Nad,” kata Lina, menepuk bahunya. “Kita sudah hampir sampai di akhir. Fokus saja pada klien hari ini.”
Klien pertama pagi itu adalah seorang wanita muda bernama Siska, yang baru pertama kali datang ke salon. Ia memesan desain kuku bernuansa biru laut dengan detail ombak putih.
“Ini untuk liburan akhir pekanku di pantai,” kata Siska sambil tertawa kecil.
Nadia menyiapkan desain sederhana namun memukau: gradasi biru dan putih yang dilukis dengan teknik spons, dilengkapi aksen kilau glitter di ujung kuku. Meskipun pikirannya sedikit terganggu, Nadia tetap memberikan yang terbaik. Hasilnya mendapat pujian dari Siska, yang berjanji akan kembali lagi.
Kabar dari Raka
Menjelang siang, telepon Nadia berdering. Itu Raka, suaranya terdengar lega tetapi tetap waspada.
“Lila berhasil melarikan diri tadi malam, tapi kami menemukan bukti baru di vilanya. Ada catatan dan rekaman percakapan yang membongkar rencana besarnya,” ujar Raka.
Nadia merasa jantungnya berdegup lebih cepat. “Apa maksudnya rencana besar?”
“Ada indikasi bahwa dia punya sekutu yang lebih kuat dari yang kita bayangkan. Polisi sedang menyelidiki identitas orang ini. Mereka akan memanggilmu untuk memberikan keterangan tambahan, terutama tentang ancaman yang kamu terima,” kata Raka.
Nadia merasa gugup tetapi tahu ia harus menghadapi ini. “Aku akan siap.”
Ancaman Baru
Saat sore tiba, salon mulai sepi. Lina meminta Nadia dan Tari untuk pulang lebih awal, sementara Maya memilih tinggal untuk membantu menyusun bahan edukasi nail art yang akan mereka unggah di media sosial salon.
Di apartemennya, Nadia duduk di sofa, mencoba merilekskan diri. Tetapi, ponselnya kembali berbunyi. Sebuah pesan baru masuk dari nomor tak dikenal:
“Kamu pikir ini akan selesai hanya dengan menangkapku? Pertarungan baru saja dimulai.”
Pesan itu disertai foto salon tempat Nadia bekerja, diambil dari sudut yang cukup dekat. Pesan tersebut membuat Nadia merasakan ketegangan baru. Ia segera menghubungi Lina dan Raka untuk memberi tahu hal ini.
“Jangan panik,” kata Raka dengan nada tegas. “Polisi akan meningkatkan pengawasan di sekitar salon. Aku akan segera ke sana.”
Cliffhanger
Malam itu, Nadia memandangi layar ponselnya dengan pikiran berkecamuk. Ancaman ini tidak hanya menyasar dirinya, tetapi juga salon yang menjadi tempatnya berkarya dan orang-orang yang ia sayangi.
“Kalau ini perang, aku tidak akan mundur,” bisiknya pada dirinya sendiri.
Di kejauhan, suara sirene polisi terdengar samar, seolah menjadi tanda bahwa pertarungan ini akan segera mencapai puncaknya.
---
Komentar
Posting Komentar