Episode 6: Titik Temu
Pagi itu, Nadia tengah menata peralatan nail art di meja kerjanya. Hari ini, ia berencana bereksperimen dengan teknik marbling untuk klien baru yang sudah memesan jauh-jauh hari. Pikiran Nadia sedikit melayang, mengingat percakapannya dengan Raka beberapa hari lalu. Proyek arsitektur baru yang Raka ceritakan terdengar sangat ambisius, dan ia bisa melihat api semangat di mata pria itu saat menjelaskan detailnya.
Ketukan di pintu membawa Nadia kembali ke dunia nyata. Seorang wanita muda dengan senyum cerah melangkah masuk. "Halo, Kak Nadia. Saya Siska," sapanya ramah.
Nadia tersenyum. "Halo, Siska. Desain marbling, ya? Kamu mau yang natural atau lebih berwarna-warni?"
Siska mengangguk antusias. "Aku mau yang berwarna-warni. Katanya, marbling itu tekniknya unik banget, ya?"
Sambil mulai bekerja, Nadia menjelaskan, "Iya, marbling melibatkan pencampuran warna langsung di permukaan kuku. Teknik ini sering dipakai untuk menciptakan efek abstrak yang menyerupai batu marmer atau cairan yang mengalir."
Percakapan mereka mengalir hangat. Siska bercerita tentang kesibukannya sebagai mahasiswa seni rupa. Ia sedang menyusun tugas akhir, sebuah instalasi yang menggambarkan perjalanan emosi manusia. Nadia merasa terhubung—keduanya memiliki kecintaan pada seni dan detail.
Namun, percakapan terhenti sejenak saat pintu studionya terbuka lagi. Raka masuk, membawa gulungan blueprint dan sebuah kotak kecil di tangannya. Nadia sedikit terkejut tapi senang melihatnya.
"Maaf ganggu, Nad. Aku cuma mau mampir sebentar," ujar Raka dengan senyum khasnya. Ia melirik ke arah Siska. "Lagi sibuk, ya?"
Siska melirik Nadia dengan tatapan menggoda, menyadari hubungan di antara mereka. Nadia tertawa kecil. "Raka, ini Siska. Siska, ini Raka. Salah satu klien setiaku."
Setelah sedikit bercakap-cakap, Raka menyerahkan kotak kecil itu pada Nadia. "Ini referensi tekstur yang aku pakai di desain bangunan baru. Siapa tahu bisa jadi inspirasi untuk desain kuku."
Nadia membuka kotak itu dan menemukan potongan kecil keramik dengan pola geometris indah. "Ini luar biasa," gumamnya.
"Kalau kamu ada waktu, mampir saja ke lokasi proyek. Aku bisa tunjukkan lebih banyak detailnya," tawar Raka sebelum pamit.
Setelah Raka pergi, Siska tersenyum nakal. "Kak Nadia, dia nggak cuma klien biasa, kan?"
Nadia hanya menggeleng sambil tersenyum malu. "Ayo, kita lanjut marbling-nya."
Namun, dalam hati, ia tahu kunjungan singkat Raka pagi ini meninggalkan lebih dari sekadar pola geometris—ada sebuah rasa yang mulai membentuk dirinya sendiri, perlahan, seperti marbling yang indah di kuku Siska.
Catatan Edukasi:
Teknik marbling pada kuku dilakukan dengan mencampur beberapa tetes cat kuku di permukaan air, kemudian membentuk pola menggunakan tusuk gigi. Setelah itu, kuku dicelupkan perlahan ke dalam air untuk menangkap pola yang terbentuk. Teknik ini memberikan hasil akhir yang unik dan personal pada setiap kuku.
Daftar isi
https://kukuku-novelcinta.blogspot.com/2024/12/daftar-isi.html
Cerita sebelumnya
Episode 5: Warna yang Tersembunyi
https://kukuku-novelcinta.blogspot.com/2024/12/episode-5-warna-yang-tersembunyi.html
Cerita selanjutnya
Episode 7: Jejak di Lantai Beton
https://kukuku-novelcinta.blogspot.com/2024/12/episode-7-jejak-di-lantai-beton.html
Komentar
Posting Komentar