Episode 49: Di Balik Desain dan Misteri

 Daftar isi 41-60

https://kukuku-novelcinta.blogspot.com/2024/12/daftar-isi-41-60.html

Pagi itu, Nadia tiba di salon lebih awal dari biasanya. Pikirannya sibuk memikirkan pertemuannya dengan polisi siang nanti. Namun, ia tetap berusaha fokus pada pekerjaannya, karena hari ini ada beberapa klien yang memesan desain khusus menggunakan kombinasi nail art manual dan stiker.

Seorang klien baru bernama Rina datang dengan penuh antusias. “Kak Nadia, aku lihat di media sosial Kuku Ku, desain kuku pakai stiker itu keren banget! Aku mau coba, tapi bisa ditambahkan sesuatu yang lebih personal?”

“Tentu bisa, Rina,” jawab Nadia sambil tersenyum. “Apa kamu punya tema atau warna tertentu yang kamu suka?”

“Aku suka hijau tua dan elemen hutan, mungkin ada gambar binatang kecil seperti kupu-kupu atau capung?”

Nadia langsung menyiapkan stiker kupu-kupu berwarna emas dan daun tropis. “Kita bisa kombinasikan stiker ini dengan sedikit lukisan tangan, seperti ranting kecil atau bunga liar. Akan memberi kesan personal tapi tetap simpel.”

Saat bekerja, Nadia menjelaskan langkah-langkahnya kepada Tari yang sedang mempelajari teknik ini. “Langkah pertama, aplikasikan base coat. Setelah itu, pilih stiker yang ukurannya sesuai dengan kuku klien. Untuk membuatnya lebih menarik, tambahkan detail manual dengan cat gel dan kuas halus.”

Rina tampak senang melihat proses tersebut. “Rasanya seperti melihat seni kecil dibuat khusus untukku,” katanya.

Di sela-sela bekerja, Lina mendekati Nadia dan berbisik, “Polisi sudah dihubungi Raka. Mereka akan menemuimu setelah makan siang di salon ini. Aku akan memastikan kita punya ruang untuk diskusi dengan mereka.”

Nadia mengangguk, mencoba mengatur pikirannya. Ia kembali fokus pada pekerjaan, menambahkan detail ranting tipis dengan cat cokelat gelap di kuku Rina, lalu melapisinya dengan top coat untuk memberi efek glossy. Hasil akhirnya memukau.

“Ini cantik banget!” seru Rina. “Kayak bawa sepotong hutan kecil di tanganku.”

Setelah Rina pergi, Maya mendekati Nadia. “Kamu kelihatan tegang. Sudah tahu apa yang mau dibicarakan polisi?”

“Belum semuanya,” jawab Nadia jujur. “Tapi Raka bilang, ini terkait seseorang dari masa lalu mentor Melati. Aku takut, Maya. Kalau ancaman ini datang dari seseorang yang benar-benar tahu aku…”

“Tenang,” kata Maya, menepuk pundak Nadia. “Kita di sini bersamamu. Jangan biarkan ketakutan menghentikan langkahmu.”

Ketika siang tiba, dua polisi datang bersama Raka. Mereka meminta Nadia duduk di ruang belakang salon untuk mendiskusikan perkembangan kasusnya.

“Salah satu tersangka kunci kami adalah mantan asisten Melati,” kata salah seorang polisi. “Dia diketahui memiliki hubungan dekat dengan Lila, orang yang selama ini Anda curigai.”

Nadia terdiam, mencerna informasi itu. “Jadi mereka bekerja sama?” tanyanya.

“Belum sepenuhnya jelas, tapi ada indikasi bahwa Lila memanfaatkan rasa dendam dan iri hati orang ini untuk melancarkan aksinya.”

Raka menambahkan, “Mereka juga menemukan bukti bahwa akun anonim yang menyebarkan fitnah tentangmu dikelola dari alamat IP yang terhubung dengan co-working space milik rekan Lila.”

Nadia merasa lega sekaligus cemas. Ini adalah langkah besar dalam kasus ini, tapi juga berarti ancaman itu semakin mendekati kebenaran.

“Langkah selanjutnya adalah memastikan bukti ini cukup untuk membawa mereka ke pengadilan,” kata polisi itu.

Setelah pertemuan selesai, Nadia kembali ke meja kerjanya. Meski pikiran tentang ancaman terus mengganggunya, ia bertekad untuk tidak menyerah. Seni nail art tetap menjadi pelariannya, cara ia menemukan ketenangan di tengah badai yang sedang ia hadapi.

Malam harinya, Nadia memposting desain kuku Rina di akun Kuku Ku dengan caption: “Ketika alam menginspirasi seni, keindahannya tak pernah gagal membuat kita kagum. Dengan kombinasi stiker dan lukisan tangan, jadikan kuku Anda kanvas cerita pribadi.”

Ia menutup harinya dengan tekad baru: apa pun yang terjadi, ia akan melawan hingga akhir.

---

Komentar