Episode 44: Jejak yang Terlupakan
Daftar isi 41-60
https://kukuku-novelcinta.blogspot.com/2024/12/daftar-isi-41-60.html
Hari itu, meski ancaman yang terus menghantui Nadia belum juga sirna, suasana di salon tetap penuh energi. Nadia dan teman-temannya, Maya dan Tari, terus berfokus pada karya seni mereka—desain kuku bertemakan alam yang semakin diminati oleh klien. Meskipun ketegangan masih menggantung, Nadia tahu bahwa kerja keras dan ketekunan mereka akan membuahkan hasil yang lebih baik.
Pagi itu, Nadia sedang mempersiapkan beberapa desain kuku untuk klien yang akan datang. Tiba-tiba, telepon salon berdering. Nadia mengangkatnya, berharap itu adalah salah satu klien yang ingin membuat janji.
"Selamat pagi, ini Nadia," ujarnya sambil tersenyum, meskipun jantungnya berdebar.
Suara di ujung telepon terdengar lebih tenang dari biasanya. "Nadia, saya Arman. Kita perlu berbicara," kata suara pria itu, tegas namun penuh perhatian.
Nadia terkejut. Arman Wiratama, seorang klien yang dikenal dekat dengan Raka, adalah salah satu tokoh yang cukup berpengaruh. Selama ini, mereka hanya berinteraksi secara profesional dalam beberapa kesempatan. Arman menambahkan, "Saya rasa kamu harus tahu sesuatu yang penting. Ada hal yang perlu kita bahas secara langsung. Bisa kita bertemu?"
"Di mana?" Nadia langsung merasa curiga, tetapi ia tahu Arman mungkin memiliki informasi yang bisa membantu.
"Di kafe dekat kantor saya. Jam 2 siang, saya tunggu," jawab Arman, lalu menutup telepon tanpa memberi penjelasan lebih lanjut.
Maya yang mendengar percakapan tersebut langsung mendekat. "Siapa itu, Nadia? Apa ada masalah?" tanyanya, terlihat khawatir.
"Itu Arman. Dia ingin bertemu. Aku rasa ada sesuatu yang perlu dia sampaikan," jawab Nadia, sedikit bingung. "Aku akan pergi sebentar. Kalau ada apa-apa, aku akan hubungi kamu."
Jam menunjukkan pukul dua siang saat Nadia tiba di kafe yang dimaksud. Arman sudah duduk di sudut, mengenakan jas yang rapi, tampak lebih serius dari biasanya. Nadia merasa sedikit cemas, tetapi ia tetap mendekati meja dan duduk di seberangnya.
"Terima kasih sudah datang, Nadia. Ada hal yang perlu kamu ketahui tentang Lila," kata Arman setelah mereka saling bertegur sapa. "Saya yakin kamu sudah mulai merasa ada yang aneh dengan ancaman yang datang kepadamu, bukan?"
Nadia menatap Arman dengan hati-hati. "Apa maksudmu? Apa hubungannya Lila dengan semua ini?"
Arman memandang sekeliling, memastikan tidak ada yang mendengar percakapan mereka. "Lila terlibat dalam banyak hal yang tidak kamu ketahui. Beberapa waktu lalu, dia memerintahkan seseorang untuk mengawasi kamu dan mencoba menghancurkan reputasimu. Saya baru saja mendengar informasi yang mengarah ke dia. Dia ingin menguasai pasar kecantikan di sini, dan tampaknya kamu adalah salah satu hambatannya."
Nadia merasa seolah-olah dunia di sekelilingnya tiba-tiba berhenti bergerak. “Jadi selama ini, Lila yang mengirim ancaman-ancaman itu?”
Arman mengangguk. "Lila bukan hanya pesaing bisnismu, Nadia. Dia punya cara yang lebih gelap untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Tapi sekarang, ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi—sesuatu yang melibatkan banyak orang yang mungkin kamu kenal."
Nadia merasa marah dan bingung, tetapi dia mencoba tetap tenang. "Apa yang harus aku lakukan?"
Arman melanjutkan, "Kamu harus berhati-hati, Nadia. Jangan percayakan semuanya kepada orang-orang yang tampaknya berada di pihakmu. Bahkan orang terdekatmu bisa jadi memiliki agenda tersembunyi."
Sebelum Nadia sempat bertanya lebih lanjut, Arman berdiri dan memberikan sepucuk surat. "Baca ini nanti. Dan hati-hatilah, Nadia. Dunia ini lebih rumit dari yang kamu kira."
Nadia memandang surat itu dengan cemas. Arman menepuk bahunya dengan penuh perhatian, lalu beranjak pergi, meninggalkan Nadia yang masih duduk di kafe, terdiam.
Sebelum meninggalkan kafe, Nadia memutuskan untuk membuka surat itu. Isinya adalah daftar nama beberapa orang yang, menurut Arman, terlibat dalam usaha merusak reputasinya. Ada beberapa nama yang sangat familiar, termasuk Lila Wirawan, dan nama lainnya yang mengejutkan—beberapa orang yang selama ini ia anggap teman dekat.
Nadia menggenggam erat surat itu, perasaan cemas bercampur dengan amarah. “Jadi inilah kenyataannya,” pikirnya. “Lila tidak hanya menjadi ancaman bagi salon, tetapi juga untuk hidupku.”
Dengan tekad baru, Nadia tahu bahwa ini adalah titik baliknya. Dia harus melangkah lebih hati-hati, menyusun rencana untuk menghadapi Lila, dan siapa pun yang terlibat dalam permainan gelap ini.
Komentar
Posting Komentar