Episode 42: Di Balik Topeng yang Terjatuh

 Daftar isi 41-60

https://kukuku-novelcinta.blogspot.com/2024/12/daftar-isi-41-60.html

Awal Maret membawa angin segar ke salon Nadia, meskipun ancaman dari sosok misterius masih membayangi. Pada tanggal 3 Maret, Maya dan Tari mencoba menciptakan suasana positif dengan membahas rencana promosi baru yang relevan dengan bulan ini.

“Mengapa kita tidak membuat desain kuku bertema alam? Hari Hutan Sedunia dan Hari Air Sedunia segera tiba. Kita bisa mengangkat tema yang menginspirasi,” usul Maya, mengingatkan bahwa Hari Hutan Sedunia dan Hari Puisi Sedunia jatuh pada tanggal 21 Maret, diikuti oleh Hari Air Sedunia pada tanggal 22 Maret.

“Itu ide yang bagus,” jawab Nadia, mencoba tetap fokus meski pikirannya terusik oleh insiden sebelumnya.

Pagi itu, seorang klien bernama Karina datang. Wanita itu adalah seorang influencer kecantikan yang terkenal dengan gaya edgy dan berani. Karina meminta desain kuku dengan tema galaksi abstrak, menggunakan perpaduan warna ungu, biru tua, dan aksen glitter.

“Desain ini untuk kolaborasi kontenku minggu depan. Aku ingin sesuatu yang memukau, tapi tetap elegan,” kata Karina.

Selama bekerja, Nadia mengobrol santai dengan Karina tentang pentingnya merawat alam. “Tahukah Anda? Desain galaksi ini mengingatkan saya akan pentingnya menjaga lingkungan. Ruang angkasa mungkin jauh, tapi semua keindahan itu mulai dari planet kita sendiri,” katanya.

Karina tersenyum. “Benar juga. Mungkin aku bisa menyisipkan pesan tentang peduli lingkungan di kontenku nanti.”

Nadia juga menyarankan pentingnya menjaga kesehatan kuku, terutama jika sering menggunakan nail polish atau kuku palsu. “Istirahatkan kuku Anda beberapa hari setiap bulan, dan pastikan menggunakan pelembap kutikula untuk mencegah kekeringan,” tambahnya.

Hasil akhirnya membuat Karina sangat puas. “Ini luar biasa, Nadia. Aku akan merekomendasikan salonmu ke semua followers-ku!” katanya dengan senyum lebar.

Namun, hari itu tidak berlalu tanpa kejadian aneh. Saat Karina keluar dari salon, Nadia melihat seorang pria dengan jaket hitam berdiri di ujung jalan. Wajahnya tertutup topi, tapi tubuhnya tampak familiar.

Nadia memutuskan untuk bertindak. “Tari, hubungi polisi. Aku ingin tahu siapa pria itu,” katanya sambil mencoba tetap tenang.

Raka, yang kebetulan datang ke salon, langsung mengambil inisiatif untuk mengikuti pria tersebut dari kejauhan. Beberapa menit kemudian, Raka kembali dengan wajah serius. “Aku berhasil mengambil fotonya sebelum dia kabur. Polisi harus melihat ini.”

Foto itu menunjukkan wajah pria yang samar-samar dikenal Nadia. Setelah menyerahkannya kepada polisi, salah satu petugas menyebutkan sesuatu yang mengejutkan.

“Pria ini pernah bekerja untuk salah satu proyek yang dikelola oleh... Lila Wirawan,” kata petugas itu.

Nadia terdiam. Kecurigaannya terhadap Lila semakin kuat. Namun, apa motifnya? Mengapa Lila begitu terobsesi menghancurkan dirinya?

Malamnya, Raka dan Nadia mencoba menyusun kembali semua petunjuk yang mereka miliki. “Ada sesuatu yang tidak kita lihat, tapi semuanya mengarah ke Lila. Kita hanya perlu satu bukti kuat lagi,” kata Raka sambil menatap Nadia dengan penuh tekad.

Di tengah diskusi, telepon Nadia berbunyi. Nomor tak dikenal lagi. Suara di ujung telepon terdengar serak namun penuh ejekan.

“Kamu sudah terlalu jauh. Jangan kira kamu bisa mengalahkanku. Ini baru permulaan,” katanya sebelum menutup telepon.

Nadia merasakan jantungnya berdebar keras. Dia menatap Raka. “Aku tidak akan mundur. Apa pun yang mereka rencanakan, aku akan melawan.”

---

Komentar