Episode 39: Langkah di Tengah Kabut

 Daftar isi

https://kukuku-novelcinta.blogspot.com/2024/12/daftar-isi-21-40.html

Malam terasa begitu panjang bagi Nadia. Pesan ancaman yang dia temukan di meja salon terus terbayang-bayang di pikirannya. Namun, dia tahu tidak ada gunanya terus takut. Saat pagi tiba, dia memutuskan untuk bertemu dengan Raka dan membahas langkah selanjutnya.

“Aku tidak akan membiarkan mereka menang, Raka. Kalau ini soal Lila, aku ingin kita segera mendapatkan bukti. Kita harus tahu motifnya,” kata Nadia dengan nada tegas.

Raka mengangguk. “Aku sudah menghubungi seorang teman di polisi. Mereka akan memantau gerak-gerik Lila secara diam-diam. Kita juga perlu tetap waspada di salon.”

Di salon, Maya dan Tari sudah memulai aktivitas seperti biasa. Tari terlihat ceria, tapi sesekali kecerobohannya muncul ketika menjatuhkan beberapa botol cat kuku. “Maaf, Kak Nadia! Aku bereskan ini sekarang,” katanya sambil buru-buru membersihkan.

Nadia hanya tersenyum kecil. “Tidak apa-apa, Tari. Hati-hati saja ke depannya.”

Siang itu, seorang klien pria bernama Dion datang. Ia adalah seorang pengusaha muda yang baru pertama kali mencoba nail care. “Jujur, saya awalnya ragu datang ke sini. Tapi seorang teman bilang perawatan kuku itu penting, apalagi kalau sering tampil di depan klien,” katanya sambil tertawa kecil.

Nadia menyambut Dion dengan ramah. “Perawatan kuku bukan hanya soal penampilan, tapi juga kesehatan. Saya yakin Anda akan merasakan manfaatnya.”

Dion meminta desain simpel dengan warna netral, mencerminkan profesionalisme. Selama perawatan, mereka berbincang tentang bagaimana stereotip sering membuat pria enggan melakukan perawatan semacam ini. “Saya harap semakin banyak pria yang sadar bahwa merawat diri itu bukan hal memalukan,” kata Dion.

Percakapan dengan Dion memberi Nadia ide. “Mungkin ini saatnya kita buat kampanye kecil di salon untuk mengedukasi pria tentang pentingnya nail care,” ujarnya kepada Maya setelah Dion pergi.

“Bagus juga. Sekalian bisa jadi distraction dari semua ancaman itu,” balas Maya dengan senyum penuh dukungan.

Namun, sore harinya, ancaman kembali muncul. Kali ini berupa panggilan telepon dari nomor tak dikenal. Suaranya terdengar lembut namun penuh intimidasi.

“Kamu pintar bertahan, Nadia. Tapi seberapa lama kamu bisa melakukannya? Semua yang kamu bangun bisa runtuh dalam sekejap,” kata suara di ujung telepon sebelum memutus panggilan.

Nadia merasa darahnya berdesir. Kali ini dia tidak akan tinggal diam. Dia segera menghubungi polisi dan melaporkan kejadian itu, memberikan nomor telepon yang menghubunginya sebagai bukti.

Malamnya, Raka membawa kabar baru. “Polisi menemukan sesuatu yang menarik. Nomor yang meneleponmu tadi terlacak berasal dari lokasi yang sama dengan paket berisi cairan merah yang diterima salon. Dan tempat itu... ada hubungannya dengan salah satu kolega Lila.”

“Jadi benar ini ada kaitannya dengan Lila?” tanya Nadia dengan nada kesal.

Raka menatapnya. “Belum ada bukti kuat, tapi semua petunjuk mengarah ke sana. Kita hanya perlu sedikit waktu lagi untuk mengungkap semuanya.”

---

Episode ini berakhir dengan peningkatan ketegangan. Nadia mulai melibatkan langkah hukum lebih serius, sementara hubungan Lila dengan ancaman semakin terkuak. Tekad Nadia semakin besar untuk melindungi apa yang telah dia bangun.


Komentar