Episode 25: Percikan di Balik Intrik
Daftar isi
https://kukuku-novelcinta.blogspot.com/2024/12/daftar-isi-21-40.html
Hari itu, salon terasa tenang, tetapi pikiran Nadia terus sibuk dengan segala intrik yang membayangi kehidupannya. Pesan terakhir dari jurnalis tentang konflik internal di perusahaan Lila membuat Nadia sadar bahwa masalah ini lebih rumit dari yang ia duga. Namun, di tengah kekalutan, Nadia memutuskan untuk fokus menyelesaikan pekerjaannya di salon, sementara strategi untuk menghadapi konflik sedang dipersiapkan oleh Arman dan tim.
---
Sesi Nail Art dengan Klien
Seorang klien lama, Devi, datang dengan permintaan desain kuku yang tidak biasa. "Nadia, aku punya pesta tema futuristik minggu ini. Aku ingin desain kuku yang terlihat seperti sesuatu dari masa depan!" katanya penuh semangat.
Nadia tersenyum. "Tema futuristik membuka banyak kemungkinan. Kita bisa bermain dengan warna kromatik seperti perak, biru metalik, atau holografik. Dan untuk detailnya, kita bisa tambahkan garis-garis minimalis atau pola teknologi seperti sirkuit elektronik."
Devi mengangguk antusias. "Aku suka ide pola sirkuit! Itu pasti terlihat unik."
Saat Nadia mulai bekerja, dia memberikan edukasi kecil kepada Devi tentang tren nail art futuristik.
"Desain futuristik sering memanfaatkan efek tiga dimensi, seperti penggunaan bubuk krom untuk hasil akhir metalik. Tren ini biasanya dipadukan dengan mode avant-garde. Kalau kamu mengenakan pakaian dengan tekstur seperti kulit sintetis atau aksesori berwarna metalik, kuku seperti ini akan menyempurnakan tampilanmu."
Devi tampak terpesona. "Aku tidak pernah tahu desain kuku bisa begitu mendetail. Terima kasih, Nadia."
---
Pertemuan Rahasia
Sementara itu, di studio Arman, Raka bertemu dengan jurnalis yang telah membantu Nadia. Mereka berbicara tentang informasi baru yang terungkap.
“Jadi, siapa sebenarnya yang mencoba menjatuhkan Lila?” tanya Raka.
Jurnalis itu menjawab dengan nada serius. “Ada indikasi bahwa salah satu direktur di perusahaan itu tidak senang dengan kebijakan Lila yang mendukung seni. Dia melihat ini sebagai pengeluaran yang tidak perlu dan ingin mengalihkan dana ke proyek yang lebih menguntungkan.”
Raka mengangguk. “Jika mereka sampai menggunakan cara seperti menyebarkan rumor untuk menjatuhkan reputasi Nadia, berarti mereka sangat putus asa.”
“Kita harus waspada. Orang ini tidak hanya menargetkan Lila, tapi siapa pun yang terkait dengannya, termasuk Nadia,” kata jurnalis tersebut.
---
Konfrontasi di Pameran
Pada malam itu, Nadia menghadiri acara lanjutan dari pameran yang sedang berlangsung. Lila juga hadir, tetapi suasana di antara mereka terasa kaku.
Nadia memutuskan untuk mendekati Lila secara langsung. “Bu Lila, saya ingin membahas sesuatu yang penting. Saya mendapat informasi bahwa ada pihak di perusahaan Anda yang ingin menjatuhkan proyek ini.”
Ekspresi Lila berubah, tetapi dia tetap tenang. “Saya juga mendengar desas-desus itu, Nadia. Tapi saya tidak bisa mengambil tindakan tanpa bukti yang konkret.”
“Kalau begitu, izinkan saya membantu. Jika ada bukti yang bisa saya temukan, saya akan memberikannya kepada Anda. Saya tidak ingin proyek ini menjadi korban dari konflik internal,” kata Nadia tegas.
Lila tersenyum tipis. “Kamu berani, Nadia. Itu yang membuat saya tertarik mendukungmu sejak awal.”
---
Tari dan Pelajaran di Salon
Keesokan harinya di salon, Tari mencoba membuat desain kuku yang serasi dengan pakaian kasual untuk seorang klien muda.
“Tari, bagaimana kalau desain ini?” tanya klien sambil menunjuk pola bunga yang ceria.
Tari tampak ragu. “Aku pikir bunga itu terlalu ramai untuk pakaian jeans dan kausmu. Mungkin garis-garis sederhana atau pola titik akan lebih cocok.”
Nadia yang mendengar percakapan itu tersenyum. “Tari benar. Ketika memilih desain kuku, kita perlu mempertimbangkan keseimbangan dengan pakaian. Untuk gaya kasual, pola sederhana seperti garis-garis atau aksen kecil bisa memberikan kesan segar tanpa terlihat berlebihan.”
Klien itu setuju, dan Tari dengan hati-hati menyelesaikan desain kuku dengan senyuman bangga.
---
Cliffhanger
Malam itu, Nadia menerima pesan dari nomor tak dikenal:
“Berhati-hatilah, Nadia. Ini bukan hanya tentang seni. Ini tentang siapa yang bisa bertahan di permainan ini.”
Pesan itu membuat Nadia menyadari bahwa dia berada di tengah permainan kekuasaan yang lebih besar dari sekadar dunia seni. Dia harus memutuskan langkah berikutnya dengan cermat, sementara bayangan ancaman terus mendekat.
Komentar
Posting Komentar