Episode 22: Bayangan di Balik Senyuman
Daftar isi
https://kukuku-novelcinta.blogspot.com/2024/12/daftar-isi-21-40.html
Malam pameran telah berakhir dengan sukses di mata publik. Liputan media memuji karya kolaboratif Nadia dan Bu Melati, sementara dokumentasi Daniel berhasil menunjukkan detail seni nail art yang mengesankan. Namun, pesan misterius yang diterima Nadia mengaburkan perasaan bahagianya.
---
Diskusi di Studio
Keesokan harinya, Nadia mengadakan pertemuan di studio Arman untuk membahas kelanjutan proyek. Namun, kegelisahannya terlihat jelas.
“Semua berjalan baik, tapi aku merasa ada seseorang yang ingin menjatuhkan proyek ini,” kata Nadia.
Arman menghela napas. “Kritik dan rumor memang bagian dari dunia seni, Nadia. Tetapi kita tidak bisa membiarkan itu menghentikan langkah kita.”
Bu Melati, yang mendengarkan dengan tenang, berkata, “Kalau ada yang mencoba merusakmu, berarti mereka melihat potensimu. Tapi, kamu harus waspada.”
Raka mengusulkan langkah proaktif. “Mari kita cari tahu siapa yang menyebarkan rumor itu. Aku bisa membantu menggunakan koneksi di media untuk menyelidikinya.”
---
Petunjuk yang Muncul
Sore itu, Nadia menerima telepon dari seorang jurnalis independen yang pernah ia temui di pameran.
“Aku mendengar rumor itu juga,” kata jurnalis tersebut. “Dan aku yakin sumbernya adalah seseorang yang pernah bekerja di bidang seni sebelumnya.”
Nadia langsung memikirkan Nia, tetapi tidak memiliki bukti. “Apakah Anda bisa mencari tahu lebih lanjut?” tanyanya.
“Aku akan mencoba. Tapi ini bisa memakan waktu,” jawab si jurnalis.
---
Pertemuan dengan Nia
Tak lama setelah itu, Nia menghubungi Nadia untuk meminta pertemuan. Meskipun ragu, Nadia setuju. Mereka bertemu di kafe yang sama seperti sebelumnya.
“Aku mendengar tentang rumor itu,” kata Nia langsung. “Aku tidak punya hubungan dengan itu, tapi aku ingin memperingatkanmu. Perusahaan yang kamu bekerja sama itu tidak sepenuhnya bersih.”
“Kamu terus mengatakan itu, tapi apa bukti yang kamu punya?” balas Nadia.
Nia menyerahkan sebuah dokumen. “Ini laporan tentang cara mereka memperlakukan seniman di proyek lain. Mereka pernah mengambil alih seluruh kredit dari seniman yang bekerja dengan mereka. Aku hanya tidak ingin kamu menjadi korban berikutnya.”
Nadia membaca dokumen itu dengan hati-hati. Ada beberapa klaim serius yang, jika benar, bisa merusak reputasi pameran.
---
Pertemuan dengan Lila
Nadia memutuskan untuk menghadapi CEO Lila Wirawan secara langsung. Dia mengatur pertemuan di kantor perusahaan kosmetik.
“Saya mendengar beberapa hal tentang perusahaan Anda,” kata Nadia dengan tegas. “Saya ingin tahu, apakah Anda benar-benar mendukung seniman, atau ini hanya strategi untuk branding?”
Lila tetap tenang. “Kami mendukung seni, Nadia. Kami ingin seni menjadi lebih dikenal luas, dan itulah alasan kami mendukung pameranmu.”
“Tapi ada laporan bahwa perusahaan Anda tidak memberikan kredit yang layak di proyek sebelumnya,” lanjut Nadia.
Lila tersenyum kecil. “Itu adalah masa lalu, dan kami telah memperbaiki kesalahan tersebut. Jika kamu memiliki keraguan, kamu bisa keluar dari kontrak, tapi itu akan merusak pameranmu.”
---
Keputusan Nadia
Nadia keluar dari kantor Lila dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, dia tidak ingin mengorbankan integritas seninya. Di sisi lain, keluarnya dukungan perusahaan akan membuat proyek pameran sulit dilanjutkan.
Dia berbicara dengan Raka, Bu Melati, dan Arman di studio. “Kalau kita tetap bekerja dengan mereka, kita harus memastikan kontrol penuh atas karya kita.”
Arman setuju. “Kita bisa menyiapkan langkah hukum untuk melindungi hak cipta kita. Jika mereka mencoba mengambil keuntungan, kita siap melawan.”
---
Cliffhanger
Malam itu, Nadia menerima pesan lagi:
“Langkahmu berikutnya akan menentukan semuanya. Jangan sampai salah memilih teman.”
Pesan itu membuat Nadia menyadari bahwa perjuangannya baru dimulai. Namun, siapa yang mengirim pesan ini? Apakah ancaman itu datang dari luar, atau seseorang di lingkaran terdekatnya?
Komentar
Posting Komentar