Episode 20: Rahasia yang Terungkap
Nadia membaca pesan dari Nia dengan perasaan campur aduk. Apa yang Nia tahu? Apakah ini semacam peringatan, atau hanya taktik untuk menarik perhatian? Setelah mempertimbangkan sejenak, Nadia memutuskan untuk menemui Nia di sebuah kafe dekat studionya.
Nia sudah menunggu di sudut ruangan dengan ekspresi serius. Setelah beberapa basa-basi, dia langsung masuk ke intinya.
“Nadia, aku tidak bermaksud menghalangi kamu, tapi aku perlu memberitahumu sesuatu tentang perusahaan kosmetik yang ingin mendukung proyekmu,” katanya pelan.
Nadia menatapnya, bingung. “Apa maksudmu?”
“Sebelum membuka studionya, aku pernah bekerja sama dengan mereka untuk kampanye kecantikan,” ungkap Nia. “Mereka memang tampak mendukung seni dan budaya, tapi ada banyak laporan tentang bagaimana mereka sering mengeksploitasi seniman tanpa memberikan kredit yang layak. Aku hanya tidak ingin kamu jatuh ke perangkap itu.”
---
Kebimbangan Nadia
Mendengar itu, Nadia merasa ragu. Tawaran dari CEO perusahaan kosmetik itu adalah satu-satunya harapan mereka untuk menyelamatkan pameran. Tetapi jika yang dikatakan Nia benar, apakah itu sepadan dengan risiko mengecewakan tim dan mencemari integritas proyeknya?
Setelah berbicara dengan Nia, Nadia memutuskan untuk berdiskusi dengan tim. Di studio Arman, dia mengungkapkan keraguannya kepada semua orang.
“Kalau mereka tidak menghargai seniman, aku tidak yakin kita harus menerima dukungan mereka,” katanya.
Arman mengangguk, tapi matanya terlihat lelah. “Aku mengerti, Nadia. Tapi tanpa sponsor, pameran ini tidak akan terjadi. Kita harus menimbang risiko ini dengan hati-hati.”
Bu Melati, yang duduk di sudut, tiba-tiba angkat bicara. “Kadang, untuk melindungi seni kita, kita harus berani mengambil langkah sulit. Kalau kita tidak bisa menemukan jalan lain, aku percaya pada keputusanmu, Nadia.”
---
Raka Menawarkan Ide
Malamnya, Nadia bertemu dengan Raka di studionya. Dia menceritakan dilema yang dihadapinya, berharap menemukan solusi.
Raka berpikir sejenak sebelum berkata, “Kalau masalahnya adalah kredibilitas perusahaan itu, kenapa tidak kita buat mereka berkomitmen secara transparan? Kita bisa meminta mereka menandatangani kontrak yang memastikan kredit penuh untuk setiap seniman yang terlibat. Kalau mereka menolak, berarti mereka tidak benar-benar tulus.”
Ide itu membuat Nadia merasa lebih tenang. Setidaknya ada cara untuk menguji niat perusahaan itu tanpa langsung menolak tawaran mereka.
---
Pertemuan dengan CEO
Beberapa hari kemudian, Nadia menghadiri pertemuan dengan CEO perusahaan kosmetik tersebut, seorang wanita karismatik bernama Lila Wirawan.
“Kami sangat terinspirasi oleh kampanye Anda,” kata Lila. “Perusahaan kami ingin menjadi sponsor utama proyek Anda dan memastikan pameran ini sukses besar.”
Nadia mendengarkan dengan saksama, lalu menjawab, “Terima kasih atas dukungan Anda. Tetapi, kami ingin memastikan bahwa setiap seniman yang terlibat mendapatkan kredit penuh atas karya mereka. Apakah perusahaan Anda bersedia menandatangani perjanjian untuk itu?”
Lila tersenyum tipis, tetapi ada sedikit ketegangan di matanya. “Tentu saja, kami selalu menghargai seniman. Kirimkan detail perjanjiannya, dan tim hukum kami akan meninjaunya.”
---
Keputusan Akhir
Setelah pertemuan itu, Nadia merasa sedikit lega, tetapi tetap waspada. Beberapa hari kemudian, tim perusahaan kosmetik memberikan lampu hijau untuk menandatangani perjanjian tersebut.
Dengan sponsor yang akhirnya aman, Arman dan tim bisa melanjutkan pameran sesuai rencana. Semua orang merasa lega, tetapi Nadia tahu bahwa ini hanyalah langkah pertama dalam perjalanan panjang.
---
Cliffhanger
Di malam pembukaan pameran, Nadia menerima pesan dari nomor tak dikenal:
“Kamu telah membuat pilihan yang berani, tapi awas dengan apa yang akan datang. Tidak semua orang menyukai keputusanmu.”
Pesan itu membuat Nadia bertanya-tanya. Siapa yang mengirimnya, dan apakah ini pertanda masalah baru yang akan muncul?
Komentar
Posting Komentar