Episode 19: Krisis di Tengah Impian
Nadia membaca email dari Arman dengan perasaan campur aduk. Salah satu sponsor utama proyek pameran mereka, sebuah perusahaan besar yang sebelumnya mendukung kolaborasi, tiba-tiba menarik diri. Arman menulis bahwa tanpa sponsor itu, mereka harus mencari alternatif dana dengan cepat atau menghadapi kemungkinan pembatalan pameran.
Di studio Arman, suasana tegang. Melati terlihat khawatir, sementara Daniel sibuk mengutak-atik daftar kontaknya, mencoba mencari bantuan. Arman berdiri dengan tangan disilangkan di depan papan sketsa besar, mencoba mencari solusi.
“Kita punya waktu dua minggu untuk menemukan pengganti,” katanya. “Kalau tidak, proyek ini tidak akan terlaksana.”
Nadia mengambil napas dalam-dalam. “Apa yang bisa aku lakukan untuk membantu?” tanyanya, meski dalam hati dia merasa panik.
Arman menatapnya. “Kita butuh nama besar atau kampanye yang cukup menarik untuk menarik perhatian sponsor lain. Jika kamu punya ide, sekarang saatnya.”
---
Langkah Berani Nadia
Di malam harinya, Nadia berbicara dengan Raka di studionya. Dia menceritakan situasi yang dihadapi tim pameran.
“Kamu bilang proyek ini penting untuk menunjukkan bahwa nail art adalah seni, kan?” kata Raka. “Mungkin kamu bisa menunjukkan itu langsung ke publik. Buat kampanye kecil yang membuktikan keunikan kolaborasimu dengan Bu Melati. Ini bisa jadi daya tarik untuk sponsor.”
Ide itu langsung menggugah Nadia. Dengan bantuan Raka dan Daniel, dia mulai merancang konsep kampanye digital: sebuah seri video pendek tentang perjalanan kolaborasinya dengan Bu Melati, diakhiri dengan ajakan untuk mendukung pameran.
Bu Melati menyukai ide itu. “Aku bisa menunjukkan proses membuat pola batik, sementara kamu menunjukkan bagaimana pola itu diadaptasi ke nail art. Ini akan menjadi cerita yang kuat,” katanya.
---
Kampanye Dimulai
Dalam beberapa hari, mereka mulai merekam video. Adegan pertama menampilkan Nadia dan Bu Melati bekerja bersama—Nadia dengan kuas nail art-nya, dan Bu Melati dengan canting di tangan. Kamera Daniel menangkap detail setiap goresan, menggambarkan bagaimana seni tradisional dan modern bertemu.
Di akhir video, Nadia berbicara langsung ke kamera. “Seni tidak memiliki batas. Melalui proyek ini, kami ingin menunjukkan bahwa detail kecil dalam keseharian, seperti nail art dan tekstil tradisional, bisa menjadi sesuatu yang luar biasa. Jika Anda ingin mendukung pameran kami, Anda bisa membantu dengan menyebarkan cerita ini.”
Video itu diunggah ke berbagai platform media sosial, dengan tagar #SeniTanpaBatas.
---
Respon yang Mengejutkan
Dalam waktu singkat, kampanye itu menarik perhatian luas. Video mereka dibagikan ratusan kali, bahkan oleh beberapa figur publik yang mendukung seni dan budaya. Salah satu komentar datang dari seorang CEO perusahaan kosmetik lokal yang terkenal peduli pada seni dan pemberdayaan perempuan.
“Apa yang Anda lakukan sangat inspiratif. Saya tertarik untuk berbicara lebih lanjut tentang bagaimana kami bisa mendukung proyek ini,” tulis CEO itu di kolom komentar.
Arman hampir tidak percaya ketika Nadia menyampaikan berita itu. “Ini mungkin jalan keluar yang kita butuhkan,” katanya dengan nada lega.
---
Cliffhanger
Beberapa hari kemudian, Nadia mendapat undangan untuk bertemu langsung dengan CEO perusahaan tersebut. Namun, sebelum pertemuan itu berlangsung, Nia tiba-tiba menghubungi Nadia lagi, kali ini dengan pesan yang lebih mendesak:
“Aku tahu tentang kampanyemu. Ada sesuatu yang harus kamu tahu sebelum kamu bertemu dengan CEO itu. Kita harus bicara.”
Apa yang sebenarnya ingin disampaikan Nia? Apakah ini berkaitan dengan dukungan yang diterima Nadia, atau ada sesuatu yang lebih besar di balik ini?
Komentar
Posting Komentar