Episode 18: Bayang-Bayang Lama

 

Nadia menatap layar ponselnya, nama yang muncul di sana membawa kenangan yang lama terkubur: Nia. Dahulu, mereka adalah teman baik yang sama-sama memulai karier sebagai nail artist. Namun, ambisi Nia yang besar sering kali membuat hubungan mereka menjadi kompetitif hingga akhirnya renggang.

“Kenapa dia tiba-tiba ingin bertemu?” pikir Nadia, sedikit bimbang. Akhirnya, dia memutuskan untuk menemui Nia di sebuah kafe kecil di pusat kota.

---

Pertemuan dengan Nia

Nia menyambut Nadia dengan senyum yang canggung. Dia tampak berbeda, lebih dewasa, tapi masih membawa aura percaya dirinya yang khas. Setelah beberapa basa-basi, Nia langsung ke intinya.

“Nadia, aku dengar kamu bekerja sama dengan Arman Wiratama. Itu luar biasa,” katanya sambil menyesap kopi. “Aku sebenarnya diundang juga untuk berpartisipasi di pameran keliling itu, tapi aku nggak sangka akan ada kolaborasi sebesar ini.”

Nadia terkejut mendengar bahwa Nia juga terhubung dengan Arman. “Jadi, apa kamu juga akan ikut pameran ini?”

Nia menggeleng. “Aku sudah bilang tidak. Tapi aku ingin menawarkan sesuatu kepadamu. Aku baru saja membuka studio seni kuku sendiri, dan aku butuh seseorang yang berbakat untuk menjadi bagian dari timku.”

Nadia tertegun. “Kamu ingin aku bekerja untukmu?”

“Tidak sepenuhnya begitu,” jawab Nia. “Aku ingin kita membangun sesuatu bersama. Bayangkan apa yang bisa kita capai jika kita menggabungkan ide-ide kita. Proyek ini, salon impianmu… kita bisa membuatnya lebih besar.”

---

Dilema Baru

Sepulang dari pertemuan itu, pikiran Nadia dipenuhi keraguan. Tawaran Nia terdengar menggiurkan—memiliki partner dalam bisnis bisa membuat mimpi membuka salon lebih cepat terwujud. Tapi dia tahu, bekerja dengan Nia berarti menghadapi sisi kompetitif yang selama ini membuat hubungan mereka renggang.

Di sisi lain, kolaborasi dengan Arman dan Bu Melati sedang berada di puncaknya, dan Nadia merasa terhubung dengan misi seni yang lebih besar. Apakah bergabung dengan Nia berarti meninggalkan jalur yang sudah dia bangun selama ini?

---

Diskusi dengan Maya dan Tari

Di salon, Nadia menceritakan tawaran Nia kepada Maya dan Tari. Maya mendengarkan dengan seksama, sementara Tari langsung berkata, “Kak Nadia punya cukup bakat untuk bikin salon sendiri. Kenapa harus kerja bareng orang yang dulu bikin Kakak stres?”

Maya menambahkan, “Kamu harus memikirkan apa yang benar-benar kamu inginkan. Jika kamu merasa ide Nia bisa selaras dengan visimu, tidak ada salahnya mencoba. Tapi kalau kamu hanya ingin mengejar mimpimu sendiri, jangan biarkan tawaran ini mengalihkan fokusmu.”

---

Keputusan dan Tantangan

Setelah merenung semalaman, Nadia akhirnya menelepon Nia. “Aku hargai tawaranmu, tapi aku ingin mengejar mimpiku sendiri dulu,” katanya tegas.

Nia terdengar kecewa, tapi dia mencoba untuk tetap tenang. “Aku mengerti. Semoga kita bisa bekerja sama lagi di masa depan.”

Dengan keputusan itu, Nadia merasa lega, meski dia tahu jalannya tidak akan mudah. Dia kembali fokus pada pameran dengan Arman dan Bu Melati, menciptakan karya yang semakin matang.

---

Cliffhanger

Namun, di tengah kesibukan itu, Nadia menerima email dari Arman. Dalam email tersebut, Arman mengungkapkan bahwa salah satu sponsor utama proyek pameran mendadak mundur, dan ini bisa memengaruhi seluruh rencana mereka.

Bagaimana Nadia akan menghadapi tantangan baru ini? Apakah dia harus mengambil langkah ekstrem untuk menyelamatkan proyek yang sudah dia perjuangkan sejauh ini?


Komentar