Episode 1: Ketukan di Senja Hari


Hari itu, matahari pagi masuk melalui jendela salon kecil tempat Nadia bekerja. Suasana masih sepi. Nadia sibuk menata botol-botol kuteks di rak, memastikan semuanya tersusun rapi. Ayu, sahabat sekaligus rekan kerjanya, datang membawa dua cangkir kopi.

Ayu: "Pagi, Nad. Siap perang lagi hari ini?"

Nadia: "Selalu. Kalau tangan kita berdua bisa ngomong, pasti mereka udah protes. Tapi ya, rezeki kan nggak boleh ditolak."

Keduanya tertawa kecil, menikmati kopi sebelum klien mulai berdatangan.

---

Bagian 1: Klien Pertama

Pukul 10 pagi, seorang ibu rumah tangga bernama Bu Rani masuk. Ia membawa serta anaknya yang tampak sibuk dengan ponsel.

Bu Rani: "Nadia, aku mau coba yang sedikit beda hari ini. Katanya efek marmer lagi tren ya?"

Nadia: "Betul sekali, Bu. Marble nail art sekarang lagi populer. Kombinasi warnanya bisa disesuaikan, dan hasilnya pasti elegan."

Nadia mulai bekerja. Ia mengeluarkan perlengkapan: cat dasar putih, warna abu-abu, sedikit biru, dan plastik pembungkus. Sambil bekerja, ia menjelaskan tekniknya.

Nadia: "Pertama, kita lapisi kuku dengan cat dasar putih agar efek marmernya terlihat jelas. Setelah kering, kita tambahkan warna abu-abu dan biru. Triknya adalah menggunakan plastik pembungkus untuk menciptakan pola abstrak. Ini seperti seni—nggak ada yang benar atau salah, Bu."

Bu Rani: "Oh, jadi begitu. Nggak nyangka simpel tapi hasilnya cantik."

Bu Rani tersenyum puas melihat hasil akhirnya. Sementara itu, Nadia merasa lega karena klien pertama berjalan lancar.

---

Bagian 2: Klien Tak Terduga

Hampir pukul 7 malam, saat Nadia mulai membereskan meja kerjanya, seorang pria masuk ke salon. Tingginya sekitar 180 cm, dengan wajah serius namun tampak lelah. Ayu menyikut Nadia pelan.

Ayu (berbisik): "Kok bisa ada pria ganteng datang ke sini malam-malam?"

Nadia (tertawa kecil): "Entahlah, mungkin dia salah tempat."

Pria itu mendekat ke meja resepsionis.

Raka: "Permisi, saya Raka. Baru pindah ke area sini. Saya butuh perawatan tangan, tapi ini pertama kalinya saya coba. Agak canggung juga."

Nadia: "Nggak perlu canggung, Mas. Perawatan tangan itu penting, apalagi kalau Mas kerja di bidang yang sering pakai tangan, seperti arsitek atau pekerja lapangan."

Raka tampak terkejut.

Raka: "Kok tahu saya arsitek?"

Nadia: "Tangan Mas kelihatan kok, ada bekas coretan tinta biru di jari. Biasanya tanda orang sering gambar sketsa."

Sesi perawatan dimulai. Nadia menjelaskan langkah-langkah perawatan dasar: membersihkan kuku, memotong dengan rapi, dan melembapkan kulit.

Nadia: "Perawatan ini nggak cuma untuk estetika, Mas. Kulit yang kering atau kuku yang nggak bersih bisa jadi sarang bakteri. Selain itu, tangan yang rapi juga kasih kesan profesional."

Raka: "Hmm, masuk akal. Jadi perawatan kayak gini bukan cuma buat perempuan ya?"

Nadia: "Tentu saja tidak. Merawat diri itu hak semua orang, tanpa pandang gender."

Setelah selesai, Raka menatap tangannya yang kini terlihat rapi.

Raka: "Terima kasih, Nadia. Nggak nyangka hasilnya sebagus ini."

Nadia (tersenyum): "Sama-sama, Mas Raka. Kalau butuh perawatan lagi, jangan ragu datang ke sini."

Saat Raka keluar dari salon, Nadia menyadari sesuatu. Ada aura berbeda dari klien ini—seperti magnet yang menarik perhatian tanpa ia sadari. Ayu, tentu saja, langsung menggodanya.

Ayu: "Dia bakal balik lagi, yakin deh!"

Nadia: "Ah, kamu ini."

---

Penutup

Hari pertama di minggu itu selesai dengan senyuman. Bagi Nadia, setiap klien adalah cerita, dan cerita hari itu baru saja dimulai.


Daftar isi

https://kukuku-novelcinta.blogspot.com/2024/12/daftar-isi.html

Cerita selanjutnya 

Episode 2: Sketsa di Balik Pola

https://kukuku-novelcinta.blogspot.com/2024/12/episode-2-sketsa-di-balik-pola.html


Komentar